CerpenMatur Sastra

Kuingin Berta’aruf Denganmu

Perjalananku dalam mencari jati diri bermula ketika aku memasuki perguruan tinggi negeri. Sudah menjadi hal yang wajar ketika awal masuk dan mendapat gelar mahasiswa baru, tentu harus melewati rentetan acara yang biasa kita sebut praospek dan ospek. Ospek adalah kegiatan menuju gerbang awal untuk mendapatkan gelar mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Setiap proses aku lewati, aku tekuni  dengan hati yang riang, damai, dan tak lupa juga mulai untuk saling mengenal satu sama lain.

Sebuah sapaan ‘Hai! Salam kenal‘ mampu membuat manusia lain merasa simpati akan keindahan seni yang bersifat natural dari dalam diri mereka. Keindahan itu yang membuat mereka mempunyai gelar sebagai makluk sosial. Aku, si mahasiswa baru, mempunyai keinginan menjadi sosok yang tidak sekedar sama dengan mahasiswa pada umumnya. Intinya, aku harus bisa menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, mencari relasi sebanyak mungkin. Hidup di kota perantuan yang tak banyak mengenal orang dan tak punya saudara yang bisa untuk diandalkan pasti akan sulit. Satu-satunya cara untuk mengatasinya dengan memperbayak relasi dalam pertemanan. 

Kakak pembimbing, iya dia yang memandu, menemani kita sebagai mahasiswa baru dalam suatu kelompok. Selama proses ospek aku sering bertanya kepadanya, meminta diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang benar-benar bisa memanfaatkan waktu. Mengapa demikian? Sebab, telinga ini sering mendengar dari kakak-kakak senior bahwa katanya, ada bermacam-macam kriteria mahasiswa. Di antaranya ada panggilan mahasiswa kupu-kupu yang artinya kuliah pulang-kuliah pulang, ada juga mahasiswa kuda-kuda alias kuliah dagang-kuliah dagang, ada juga nih mahasiswa kutu yang katanya kuliah turu-kuliah turu. Hahaha ada-ada saja ya ternyata. Ini yang menjadi cerminan kelak bagaimana aku menentukan cara hidup di lingkungan kampus PTN, akan memilih kriteria mahasiswa yang seperti apa aku ini.

Dengan memanfaatkan relasi, tekad ini memaksaku untuk bertanya dengan kakak pembimbing ospekku. Dengan panggilan ‘kak’ aku memberanarikan dengan mengirimkan pesan  via Whatsapp.  Percakapan pun dimulai dengan mempertanyakan, “Apakah di PTN ini ada Organisasi IMM?” Kakak pembimbing pun menjawab, “iya dek ada, apakah ada yang bisa kakak bantu?” Pertanyaan itulah yang ia lontarkan kepadaku. Lalu dia memberikan koneksi yang positif terhadapku, jawaban yang  aku tunggu-tunggu. Dia bilang kalau dia ada teman satu angkatan yang menjabat sebagai pengurus di Organisasi IMM, dan akhirnya pun dia memberikan nomor Whatsapp-nya kepadaku.

“Ini dek bisa kamu komunikasi lewat no ini, semoga bisa terhubung dengan baik.” begitulah pesan terakhir darinya. Tak lupa aku ucapkan terima kasih atas bantuannya.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tanpa harus pikir panjang, aku langsung menghubungi kontak itu. Langsung kutanyakan kepada nomor tertuju apakah ia benar bahwa ia immawan selaku pengurus IMM di PTN. Dengan cepat Ia membalas sesuai dengan jawaban seperti yang aku harapkan.

“Maksud datangnya pesan ini saya berniat untuk mendaftarkan diri bergabung di dalam Organisasi IMM.” tulisku.

Immawan itu pun memberikan balasan pesan dengan ramah. Kemudian ia langsung memintaku untuk  mengisi format yang sudah ia kirimkan via whatsaap tersebut. Yang berisikan Nama, NIM, dan Fakultas/Prodi. Rasanya lega sekali setelah aku temukan apa yang selama ini aku cari, tinggal menunggu kabar selanjutnya dari immawan selaku pengurus IMM itu.

Pagi yang ditunggu pun tiba. Matahari tampak cerah dari arah timur sana. Hamparan rumput yang hijau nan indah membuat mata ini terpana. Menghirup udara pagi membangkitkan semangat yang bersinergi. Memanjakan diri tuk menikmati keindahan alam yang terbentang luas yang tuhan timpakan padaku. Dengan bertasbih akan kebesaran-Nya. Allah-ku, Allah-ku janganlah pergi dari hatiku. 

Kisahku berlanjut, kutemukan teman-teman baru dari berbagai kota. Saling mengenal dan memperkenalkan. Kepolosanku membuat aku merasa tak tahu-menahu akan kehidupan yang amat keras di kota perantauan. Ah sudahlah! Bismillah aku akan baik-baik saja. Tak lupa aku menyapa ibu dan bapakku yang berada di desa melewati ponsel yang sudah ada di genggaman tanganku, dengan menanyakan kabar. Kami akan saling menceritakan apa yang sudah menjadi kebiasaan ketika kami mendapatkan cerita yang baru. Motivasi dan semangat darinya membuatku tak mengenal lelah untuk berusaha membahagiakan mereka yang sedang  berada di desa.

Keluarga, alasan bagiku untuk meraih mimpi. Merekalah yang menjadi sosok penyemangatku. Yang  selalu mendoakan dan mendukungku tanpa henti. Ayah dan ibuku adalah teman setiap waktu, tempat untukku mengadu, tentang kerasnya kota perantuan. Dan kini perjuanganku baru dimulai untuk mewujudkan mimpi dan harapanku. Bagiku kuliah yang kujalani kini sebagai gerbang awal dari perjuangan yang sesungguhnya. Dan semua ini masih menjadi rentetan perjalanan yang masih misterius, tak cukup untuk sekadar menduga-duga. Oh Tuhan, aku yakin skenario-Mu lebih indah.

Waktu menunjukkan pukul 13.20 WIB. Tak terasa perkuliahan cukup untuk dinikmati hari ini, 5 menit kemudian  ku apati pesan dari ponsel yang ada di genggaman tanganku, dari siapa?. Aku buka pesan yang masuk ke ponselku ini. Ternyata pesan dari immawan selaku pengurus IMM yang pesannya meminta kami sebagai calon kader IMM untuk bisa hadir di taman kampus perguruan tinggi negri (PTN) guna pengisian formulir kegiatan MASTA. Dari situlah kami saling mengenal dan memperkenalkan diri, kakak-kakak pengurus IMM cukup ramah untuk aku kenal. Baik dan sopan dari segi pakaian dan cara bicara mereka. Entah, hati ini merasa tenang dan nyaman.

Tak lupa aku menanyakan perihal kegiatan MASTA. Mulai dari lontaran pertanyaan apa itu masta? Bagaimana kegiatan di dalamnya? Dan berapa hari kegiatan itu dilaksanankan? Ya begitulah aku yang sudah merasa tak sabar ingin bergabung dan bermuara bersama mereka yang anggapanku, mereka ini kakak-kakak yang hebat dan aku ingin seperti mereka. Kuncinya jangan takut melangkah karena langkahmu adalah kualitas dirimu.

Jadi, berproseslah selagi kamu masih hidup dan kenali dirimu, maka kamu akan mengenali tuhanmu.


Editor : Amilia Buana Dewi Islamy

Ilustrator : M. Aidrus Asya’bani

4.8 4 votes
Article Rating

Hasa Elma

Bocah pinggiran

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button