EsaiMatur Opini

Bukan Membela Allah, Jika Mencederai Manusia Lain

Zaman yang serba cepat ini mungkin seperti lalu lalang jalanan di persimpangan, kita sebagai seorang yang duduk di pojok dan melihat kesemrawutan, pengendara yang marah karena motornya disenggol, ada yang tenang seperti sedang berdzikir, ada yang tak pernah sabar ingin cepat sampai atau sopir sopir angkutan yang sedang diburu setoran sehingga sembarangan berhenti di tengah jalan. 

Ibarat-ibarat itu tadi menjadikan kita sadar, kita ini berada di posisi mana dan posisi siapa. Pengendara truk? pengendara angkutan? atau pengendara motor yang sedang berdzikir? atau justru kita penjaga toko yang sedang melayani pembeli?

Pengendara yang marah-marah itulah yang saat ini banyak sekali orang-orang pakai dalam kehidupannya, seakan jika ada seseorang yang luput tak sengaja berbuat salah padanya, pada hidupnya, dia langsung marah dan menuntut, membawa ke pengadilan, berteriak seakan dirinya menderita, mencari perhatian semuanya agar dirinya menjadi pihak yang sedang dirugikan.

Sebaliknya, sikap sikap yang lain. Mungkin kita sebagai pelayan Toko, hidupnya melayani kebutuhan pembeli seperti para mubaligh yang siap memberikan solusi religius kepada mereka yang membutuhkan asupan ruhaniah.

Atau kita memilih sebagai pengendara yang sedang berdzikir tadi, dalam dirinya terdapat ingatan kepada Tuhan yang kuat, dia berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Sehingga kejadian-kejadian yang ada di depan dia tak tersulut emosi dan selalu tawadhu’ untuk meminta maaf dan berada di jalan yang sesuai.

Lantas mau berada di posisi manakah kita?  Jawabannya tentu sangat subjektif dan kompleks. Tak dipungkiri jika hari ini kita masih berjibaku pada keniscayaan benar atau salah, surga dan neraka, positif dan negatif. Hanya itu.

Saya pernah bertemu seseorang sebelum menulis ini, sebelumnya saya bertemu dengannya saat berada dalam satu acara yakni Madrasah As-Siyaasah di salah satu kota di jawa tengah selama 2 hari. Disana membahas perpolitikan tanah air dan segudang persoalannya, juga membahas bentuk negara mana yang bagus, membahas pula Khilafah, serta membahas Negara Utopia menurut Plato.

Menarik sekali pembahasannya, sebagai mahasiswa apapun program studi yang ia ambil, dia harus ikut isu – isu yang ada di tanah air. Saya sendiri melihat negara ini banyak sekali disajikan isu yang tidak pernah rampung dalam musyawarah besar dan kemudian disepakati seluruh elemen masyarakat (read : organisasi masa) isu radikalisme yang mengawali tahun 2020, perpulangan WNI eks-ISIS, Jiwasraya, Virus Corona, bahkan yang masih hangat hari ini adalah Omnibus Law RUU Cipta Lapangan Kerja tentu masih banyak yang lainnya. 

Isu – isu diatas membawa saya berpikir agak keras, sebetulnya ada apa dalam parlemen sana, ada apa dalam kementerian sana ada apa dengan para dewan di kursi politiknya? saat aku menanyakan ini, tak pernah ada maksud saya untuk menjadi ahli dibidangnya, karena saya hanya mahasiswi Sistem Informasi yang masih semester empat. 

Begitu saya melihat informasi (read : berita/artikel) saya merasa dunia ini hanya saling melempar kata-kata. Orang ini membalas kata kata dia, dia menjawab kata kata orang dan kelompok, ormas dan semua orang yang merasa dirinya penting dan berpengaruh mengeluarkan gagasan dan sikap yang hanya akan dibentur – benturkan. 

Contohlah isu radikalisme yang menjadi persoalan bangsa. Yang membuat kita kadang memaknainya secara berlebihan dan sampai hari ini radikal akan selalu menjadi isu yang aktual terlebih jika disandingkan dengan agama tertentu yang terus dipojokkan dalam dunia terorisme-radikalisme.

Bahwa radikalisme memang benar mengancam bukan hanya mengancam ideologi bangsa namun ia mengancam setiap pemikiran individu – individu dengan jubah fundamentalis keagamaan mereka.

lanjut ke halaman berikutnya

5 2 votes
Article Rating

1 2Next page

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button