EsaiMatur Opini

Kesadaran Hak Antar Manusia Atas Alam

Di antara perkembangan informasi kasus COVID-19 yang jumlahnya kian meningkat, setidaknya terselip kabar baik. Dilansir dari beritasatu.com (28/4)  menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, sampah di Jakarta berkurang 620 ton per hari selama diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pemberlakuan PSBB secara langsung berpengaruh terhadap berkurangnya jumlah sampah. Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kepulauan Seribu menyebutkan timbunan sampah selama PSBB turun menjadi 359,85 ton dari yang semula 777,82 ton. Penurunan jumlah sampah tersebut menunjukkan angka yang sangat signifikan. Kesimpulannya, ternyata harus membatasi aktivitas manusia agar produksi sampah dapat berkurang. Mengapa hal tersebut seolah memperlihatkan bahwa kita bermusuhan dengan alam? 

Beberapa waktu lalu kita juga mendengar bahwa sejak masa pandemi, polusi udara menurun drastis. Tidak heran, ketika aktivitas manusia dibatasi, pabrik akan terhenti atau mengurangi produksi. Selain itu lalu-lalang orang di jalanan akan semakin sedikit dan banyak kegiatan lain yang menghasilkan karbon berkurang. Aktivitas yang sebelumnya merusak siklus karbon setidaknya mampu dikurangi dan menjadi seimbang kembali. 

Karbon dengan jumlah yang selalu tetap (seimbang) menjadi salah satu unsur penting di bumi. Hampir semua makhluk hidup tersusun atas karbon. Respirasi, fotosintesis, transportasi, dan aktivitas lainnya memerlukan karbon agar prosesnya dapat berjalan. Perjalanan karbon di bumi, -atau kita sebut dengan siklus pendek karbon- terjadi pada saat tumbuhan dan fitoplankton menyerap karbon dioksida. Kemudian karbon dioksida itu digunakan dalam fotosintesis sehingga menghasilkan oksigen. Selanjutnya tumbuhan tersebut dimakan oleh hewan, menyebabkan adanya transfer energi. Ketika hewan dan tumbuhan tersebut dikonsumsi manusia, energi akan berpindah ke manusia. Dalam transfer energi tersebut juga terjadi transfer karbon. Sementara itu, makhluk hidup juga melakukan respirasi yang membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke atmosfer. 

Lain lagi dengan siklus panjang. Karbon akan melalui perjalanan dari bentuk batuan, tanah, laut, hingga atmosfer dalam waktu yang sangat lama. Siklus panjang karbon melibatkan proses dekomposisi atau penguraian, aktivitas erupsi gunung api, respirasi makhluk hidup, hingga pembakaran bahan bakar fosil. Proses tersebut menghasilkan karbon dioksida yang akan bergerak menuju atmosfer. 

Sangat penting untuk menjaga konsentrasi karbon di atmosfer, laut, dan daratan agar tetap seimbang. Jumlah karbon yang berlebih akan berdampak pada kehidupan di bumi. Atmosfer dengan kandungan karbon dioksida dalam jumlah banyak dapat memengaruhi iklim yang menyebabkan kenaikan suhu bumi. Sudah sejak lama kita dibayangi akan peningkatan suhu bumi. Hal yang sama pula, yang menjadi isu dalam novel Dunia Anna. 

Novel Dunia Anna

Novel filsafat semesta yang ditulis oleh Jostein Gaarder, mengusung tema permasalahan lingkungan, atau lebih luas lagi, permasalahan jagat raya. Cerita ini berawal ketika gadis bernama Anna Nyrud yang berusia sepuluh tahun menyadari bahwa alam menunjukkan sebuah anomali. Mungkin Anna akan tampak sebagai karakter yang aneh, begitu juga orang di sekelilingnya menilai dirinya. Si kecil Anna merupakan anak yang cerdas dan peka terhadap keadaan sekitarnya. Sayangnya, orang-orang justru menganggap bahwa Anna gila hanya karena ia sering mengkhawatirkan banyak hal. Hal inilah yang mengantarkan pertemuan Anna pada Benjamin, seorang psikiater. Beruntung, Benjamin tidak pernah menganggap Anna mengalami kelainan. 

Ketika ditanya apa yang dikhawatirkan oleh Anna, ia menjawab bahwa dirinya mengkhawatirkan masalah pemanasan global. Hal ini sangat mengejutkan bagi Dokter Antonsen. Anak yang pada saat itu masih berusia 16 tahun, lebih mengkhawatirkan permasalahan global dibanding memikirkan permasalahan remajanya. Dokter Benjamin merespons dengan bijak bahwa banyak orang lain yang juga mengkhawatirkan terjadinya pemanasan global. Namun Dokter mengatakan bahwa tidak ada terapi untuk mengatasinya. Satu cara yang harus dilakukan adalah dengan mengatasi pemanasan global itu sendiri, bukan mengatasi ketakutan tersebut. 

Tokoh Anna digambarkan memiliki imajinasi yang begitu aktif. Imajinasi inilah yang mengantarkannya pada ‘pertemuan’ dengan Nova. Cicit yang ada di masa depan yang terpaut puluhan tahun. Ia yang merengek hendak protes pada generasi sebelumnya yang sudah menghancurkan alamnya. Bagaimana tidak, Nova melihat dunianya sebagai alam yang telah rusak. Nova tidak lagi mampu menemukan berbagai macam fauna karena satu per satu spesies yang ada punah. Suhu terus meningkat dan ia juga harus menyadari bahwa es di kutub telah mencair hingga menenggelamkan beberapa daratan. Generasinya memang telah menghentikan pembuangan gas karbon ke atmosfer. Namun semua sudah terlambat ketika mereka menyadari dunia telah benar-benar hancur. 

Interaksi Anna dengan cicitnya membuat ia merasa perlu menyelamatkan dunia, terutama misi untuk menyelamatkan flora dan fauna dari kepunahan. Misi tersebut tidak lain agar kelak Nova masih bisa menikmati alam yang sama dengan yang saat ini Anna nikmati. Kesadaran ini muncul karena Anna paham, bahwa generasinya bukan merupakan pusat peradaban. Dunia masih akan bertahan untuk waktu yang lama, masih ada yang berhak menikmati alamnya saat ini. 

Dunia Anna dan dunia Nova digambarkan dengan latar tempat yang sama namun dengan keadaan yang berbeda. Anna hidup di mana es mungkin mulai mencair, sedangkan Nova hidup di saat es kutub sudah lenyap. Saya menganggap ini bukan deskripsi dari adanya dunia paralel, tetapi merupakan bukti kesadaran akan kesamaan hak. Tidak ada yang memilih ingin lahir di tahun berapa dan kondisi alam seperti apa. Kita yang terlahir lebih awal bukan berarti berhak atas segala yang tersedia di alam. Lantas merasa boleh memanfaatkan minyak bumi, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan semaunya. Anna seharusnya menjadi gambaran baik sosok yang peduli akan kelangsungan hidup generasi selanjutnya. 

Membaca novel Dunia Anna, kita akan dibawa pada situasi sehari-hari yang ternyata salah. Membuat kita memikirkan kembali hal sepele yang sering kita lakukan yang ternyata berdampak besar bagi bumi. Banyak situasi memilukan yang disebutkan dalam novel. Satu persatu peristiwa yang digambarkan menunjukkan keburukan manusia: egoisme, serakah, dan berpikiran jangka pendek. Anna menjadi perwujudan kita yang ada di masa saat ini, sedangkan Nova sebagai generasi penerus yang akan datang. Generasi yang tentu akan mewarisi alam kita saat ini. 

Kita tentu tak mau dihakimi oleh generasi kelak hanya karena kita terlalu serakah mengambil apa yang ada di bumi. Novel ini dapat dijadikan pembelajaran penting arti lingkungan. Eksistensi manusia di lingkungan sebagai pemeran yang mampu mengambil keputusan harusnya menjadikan diri lebih bijak.  Hal-hal seperti terlalu lama menyalakan mesin kendaraan, membakar sampah, dan semaunya menebang pohon demi kepentingan manusia tanpa memikirkan dampak bagi bumi harus dihindari. 

Di dalam novel, Anna memiliki kesempatan untuk mengembalikan bumi dalam keadaan baik. Namun apakah kita juga punya kesempatan yang sama untuk memperbaiki alam kita? Atau kita malah sudah memberi senjata bagi alam untuk membunuh kita?


Editor : Amilia Buana Dewi Islamy

Ilustrator : M. Aidrus Asya’bani

5 1 vote
Article Rating

Rahayu Suciati

Ingin jadi lentera; membara dan bermuara.

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Elyza Indrayanti
Elyza Indrayanti
1 year ago

mantull, semoga kita semua diberi kesadaran untuk lebih mencintai bumi kita

Redaksi MaturMu.ID
Redaksi MaturMu.ID(@redaksi)
Editor
Reply to  Elyza Indrayanti
1 year ago

aamiin. tetap berbuat baik dan terus sebarkan kebaikan ya kak.

Check Also
Close
Back to top button