EsaiMatur Opini

Kisah Pembajakan di Negeri Penuh Kecurangan

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat status WhatsApp seorang teman yang berisi foto sebuah buku dengan deskripsi bahwa siapa saja bisa memilikinya hanya dengan membalas status tersebut. Hal tersebut menjadi sangat janggal ketika tidak hanya satu-dua orang yang membagikan hal serupa. Karena penasaran, saya memutuskan untuk coba membalas salah satu status tersebut. Kemudian saya mendapat kiriman buku tersebut dalam bentuk soft file pdf dan diminta untuk membuat status yang sama. Katanya hal tersebut merupakan amanah dari pemilik pertama.

Maka, terjawab sudah rasa penasaran akan maraknya status serupa yang dibagikan. Tidak hanya satu, buku yang dibagikan juga beragam, mulai dari buku agama, novel, bahasa, hingga buku terjemahan berjudul Seni untuk Bersikap Bodo Amat.Kegiatan bagi-bagi buku itu terkesan baik dengan dalih agar semua orang bisa membaca buku tersebut dan mendapat ilmu darinya. Bayangkan, berapa banyak orang yang bisa dijangkau? Apabila satu orang yang membuat status akan membagikan kepada setidaknya lima orang, kemudian lima orang tersebut masing-masing akan membagikan kepada lima orang lainnya. Tentu banyak sekali. Tetapi kita lupa hal tersebut merupakan pembajakan dan pembajakan adalah ilegal.

Tidak Mengerti Buku Bajakan

Lebih mencengangkan adalah ketika saya bertanya apakah ia tidak tahu bahwa itu merupakan pembajakan, dan ia menjawab tidak tahu. Apakah semua orang yang membagikan file tersebut tidak tahu bahwa itu salah? akhirnya saya tahu kalau memang banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebagian besar ebook yang beredar di internet adalah ebook bajakan. Mereka pikir apa saja yang tersedia di internet berarti milik umum. Mereka berhak untuk mengakses dan memilikinya. Padahal hal tersebut keliru.

Bodo Amat

Beberapa orang lainnya mungkin tahu tentang buku bajakan, tetapi karena hal tersebut menguntungkan bagi dirinya dan memilih melanjutkan kegiatan tersebut.

Selain dibagikan secara gratis agar terkesan baik dengan bagi-bagi ilmu, transfer ebook bajakan juga dilakukan secara komersil. Tidak menampik bahwa setiap orang pernah salah, saya juga pernah terjebak di dunia ebook bajakan tersebut. Sebagai siswa dengan uang saku pas-pasan, saya tergiur untuk masuk grup yang membagikan ratusan ebook. Hanya dengan membayar 25 ribu rupiah, saya dapat mengakses banyak buku yang dibagikan melalui grup tersebut. Bandingkan dengan kita membeli buku fisik di toko dengan harga 60 ribuan yang hanya mendapat satu buku. Tentu hal itu sangat menguntungkan.Sudah sejak lama pembajakan buku menjadi hama bagi industri buku. Tunggu hingga saatnya nanti industri buku mati, tidak ada lagi buku baru, dan mereka akan menyadari bahwa mereka tidak bisa bertahan hidup tanpa industri buku itu sendiri. Miris sekali.

Sudah sejauh mana kita melawan pembajakan buku di negeri ini?

Marketplace justru menjadi ladang subur bagi tumbuhnya buku-buku bajakan. Sebanyak apapun penulis melaporkan adanya buku bajakan, pihak marketplace seolah menutup mata dan telinga, mereka membiarkan produk bajakan dijual melalui aplikasi mereka. Selama itu mampu meningkatkan aktivitas kunjungan dan memberikan keuntungan bagi mereka, tidak masalah produk tersebut asli atau tidak.Ternyata tidak hanya pembajakan buku, di negeri ini juga banyak terjadi pemalsuan, mulai dari film, musik, aplikasi, dan bisnis ilegal lainnya. Yang sebenarnya sudah sangat terang untuk dilihat, tetapi kebanyakan orang memilih menutup mata.Itu tadi merupakan kisah pembajakan di negeri ini, dan kisahnya mirip sekali dengan kisah dalam novel Selamat Tinggal karya Tere Liye.

Novel Selamat Tinggal

Novel Selamat Tinggal merupakan karya Tere Liye yang belum dicetak, namun sudah tersedia dalam bentuk buku digital yang dapat dibeli di Google Play Books. Novel ini berkisah tentang Sintong, seorang mahasiswa jurusan sastra yang memasuki tahun ketujuh. Cita-citanya ingin menjadi penulis. Namun, setiap hari ia justru berkutat dengan buku-buku bajakan di toko buku milik Paklik Maman, orang yang membiayai kuliahnya.Sintong sebenarnya cerdas, tulisannya yang berupa cerpen, esai, artikel, hingga resensi banyak dimuat di koran. Namun entah apa yang terjadi, semuanya berubah sejak tahun ketiga masa perkuliahan. Di balik kepiawaiannya menulis untuk media masa, ia harus tersesat ketika mengerjakan skripsi. Hingga suatu hari ia menemui dosen pembimbingnya untuk mengganti lagi topik skripsinya untuk yang ketiga kali.

Sutan Pane, pernah menulis lima buku di tahun 1965 sebelum akhirnya menghilang. Hanya tersisa satu buku Sutan Pane yang kemudian ditemukan oleh Sitong, dan buku itulah yang membawa Sitong menuju penelitian skripsi paling mengagumkan. Ia bermaksud menguak alasan menghilangnya sang penulis dan menemukan empat buku lainnya.Tentu tulisan ini tidak akan membahas secara rinci alur cerita novel tersebut dari awal hingga akhir. Tulisan ini hanya akan membahas beberapa poin yang dirasa penting dari novel tersebut (semoga tidak spoiler).Novel ini secara lengkap menyajikan kisah pembajakan di berbagai industri; film, aplikasi, musik, hingga buku. Kisahnya terdengar seperti fakta pahit bahwa rantai pembajakan tidak akan pernah putus. Bagaimana tidak, bisnis ilegal tersebut justru dilindungi oleh oknum pejabat. Selama pebisnis membayar sejumlah uang pada mereka, bisnis terlarang itu diperbolehkan.

Menjadi Sitong tentu sangat rumit, ia sadar betul bahwa bisnis Pakliknya ilegal. Dilema untuk terus hidup di bawah naungan Paklik Maman yang hidup dari buku bajakan atau memilih pergi kemudian mungkin mati keesokan harinya. Pergolakan batin ini mungkin saja dirasakan banyak orang yang berkecimpung di usaha ilegal. Namun, karena desakan ekonomi mereka memilih memenggal keraguan tersebut dan mencari pembenaran, yaitu dengan dalih mencari penghidupan. Tidak sedikit pemilik toko buku bajakan yang justru marah-marah ketika dirazia. Mereka menganggap lahan penghasilan mereka diusik. Mereka menuntut dihargai usahanya menghidupi keluarga, sekalipun dengan cara curang. Mereka lupa bahwa dengan membajak suatu buku, mereka juga sedang mengusik hak penulis, editor, penerbit, percetakan, dan lainnya. Mereka mencuri kehidupan dari orang-orang yang seharusnya lebih berhak dihargai karyanya.

Banyak Cara untuk Membaca

Sebenarnya, untuk membaca suatu buku, kita tidak harus memilikinya. Hanya dengan mendatangi perpustakaan terdekat, banyak sekali buku yang dapat dibaca tanpa memerlukan biaya. Bahkan di era digital seperti saat ini, perpustakaan berbasis digital sudah mulai dikembangkan. Aplikasi iPusnas misalnya, yang dapat diakses secara gratis dengan menginstall aplikasi tersebut di komputer atau ponsel. Koleksi buku yang ada dapat dipinjam dan dibaca dalam jangka waktu tertentu. Beberapa buku populer mungkin membutuhkan waktu lama menunggu antrian karena jumlah koleksi yang terbatas. Namun tidak ada salahnya untuk belajar sabar terlebih dahulu sebelum mencari ilmu kan?

Salah satu tulisan Agus Mulyadi yang dimuat di mojok.co berjudul “Kemiskinan Bukanlah Alasan untuk Membenarkan Pembajakan Buku” benar-benar menyadarkan saya. Ia mengemukakan bahwa menjadi pintar itu penting, tetapi menjadi pintar melalui cara yang baik itu jauh lebih penting.Akan seperti apa negara ini nantinya jika berisi orang-orang pintar namun mereka suka berbuat curang? Seharusnya tidak ada satu alasan pun yang dapat membenarkan tindakan pembajakan.Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau nantinya novel Selamat Tinggal ini dibajak juga. Apa mereka yang membaca versi bajakan tidak merasa malu?Oh, mungkin mereka tidak tahu kalau itu adalah buku bajakan.


Editor : Marham Sari Zainuddin

Ilustrator : M. Aidrus Asya’bani

5 1 vote
Article Rating

Rahayu Suciati

Ingin jadi lentera; membara dan bermuara.

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button