EsaiMatur OpiniTausiyah

Hakikat Iman: Ramadan, Momen Peningkatan Iman

Berbahagialah kita sampai detik ini masih diberikan iman oleh Allah Swt. Berbahagialah kita masih disebut alladzina amanu. Berbahagialah kita masih disebut al mu’minun, karena ternyata panggilan ini bukanlah panggilan hanya untuk orang-orang yang tertancap di dalam hatinya rasa percaya, tetapi juga panggilan yang melahirkan berita gembira, keistimewaan, yang memunculkan pujian langsung dari Allah Swt. Tidak disebutkan dalam al-qur’an, panggilan iman kecuali memberikan selamat dan itu merupakan ucapan kebahagiaan karena dengan panggilan iman itu, ia telah memiliki setengah dari kunci surganya Allah Swt.

Di dalam quran surat al-baqarah ayat ke 25 disebutkan:

“Muhammad, berikan kabar gembira kepada orang-orang yang telah memiliki iman di dalam jiwanya, kemudian imannya membimbing dia untuk mengumpulkan amal saleh, bagi mereka itu diberikan kabar gembira sebelum ia wafat, anna, itu huruf taukid, yang bermakna menguatkan sebuah informasi, bahwa bagi mereka (orang-orang yang beriman) ada padanya surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang beriman sudah memegang setengah dari kunci surga yang disiapkan oleh Allah Swt. Maka berbahagialah jika hari ini kita masih masuk pada golongan orang-orang yang beriman.

Iman tidak disebutkan dalam al-quran kecuali melahirkan janji, memberikan janji akan menajamkan dan menghujamkan ketenangan pada jiwa pemiliknya.

Disebutkan dalam quran surat al-fath ayat ke 4

“Dialah (Allah) yang berjanji akan menanamkan ketenangan (sakinnah) dalam setiap jiwa orang-orang yang beriman.”

Jadi jika kita beriman kepada Allah Swt. dengan keimanan yang benar, Allah menjamin akan menanamkan ketenangan dalam jiwa setiap orang-orang yang beriman. Supaya mereka yakin dengan iman itu ada kemantapan dalam jiwa dan bertambahlah keyakinannya pada Allah Swt.

Tidak disebutkan pula iman dalam al-qur’an, kecuali Allah menjamin dengan iman itu akan memberikan keamanan pada pemiliknya dalam hidup dunianya, alam kuburnya, sampai dengan akhiratnya.

Disebutkan dalam qur’an surat Al-An’am ayat ke 82 bahwa Allah berjanji mendatangkan keamanan bagi orang yang beriman. Disebutkan, sungguh jika ada orang-orang yang beriman, besarkah atau kecilkah, tuakah atau mudakah, lakikah atau perempuankah, kayakah atau cukupkah, kata Allah “Aku tak peduli sepanjang dia punya iman dan tidak mencampurkan adukan imannya dengan perbuatan zalim dalam berbuat maksiat, maka Aku akan jamin orang itu akan mendapatkan keamanan dalam kehidupannya”.

Orang-orang beriman itu, sudah dijamin surga, sudah dijamin ketenangan dalam jiwanya, dan dijamin aman selama hidupnya, dunianya aman, alam kuburnya aman, dan akhiratnya aman.

Tidak disebutkan kalimat iman dalam al-qur’an, kecuali dijamin oleh Allah swt, dengan iman itu kita akan diberikan kebahagiaan. Jaminannya pasti, disebutkan dalam surat al-mu’minun ayat pertama.

Qad aflakhal mu’minun, kata Allah ”orang-orang yang beriman itu pasti akan bahagia dalam hidupnya”. jika iman dibawa ke dalam kehidupan keluarga, maka keluarganya akan berbahagia. Jika iman dibawa ke dalam masyarakat, masyarakatnya akan bahagia, jika iman dibawa kedalam organisasi, maka organisasinya akan berbahagia.

Bahkan jika kita tinggal di goa yang tak ada penerangan cahaya, makannya kurang lengkap, dan alasnya batu, tetapi ada iman dalam jiwa kita, Allah tetap akan memberikan kenikmatan pada kehidupannya.

Dalam surat Al-kahfi ayat ke 13, diceritakan kisah yang sebenar-benarnya tentang para pemuda yang berlindung tinggal di goa itu saking nikmatnya tinggal di goa tak terasa 309 tahun ada di dalamnya. Miring kanan tidurnya enak, miring kiri tidurnya nyenyak, makanannya dijamin oleh Allah, tidak ada yang mengganggunya. Apa yang mereka dapatkan?

Innahum fityatun aamanu bi rabbihim, karena mereka bukan sekadar pemuda. Di luar mereka memang yang muda banyak, yang kuat banyak, tapi yang tenang tinggal di goa hanya mereka, kenapa? Amanu birabbihim, karena ada iman dalam jiwanya.

Ternyata ketika kita diminta oleh Allah untuk beriman, bukan dimaksudkan dengan iman itu mempersulit kehidupan kita. Namun supaya kita mendapatkan jaminan surga dari Allah. Ketika Allah menyeru “Ayo beriman!” kenapa ya Allah? “supaya engkau ku masukan ke dalam surga nanti”, “ayo beriman!” kenapa ya Allah? “supaya kau berbahagia”, “ ayo beriman!” kenapa ya Allah? “supaya engkau tenang hatinya”, “ayo beriman!” kenapa ya Allah? “semoga kamu tenang di hidupmu”.

Ketika ayat persoalan iman diturunkan, yaa ayyuhal ladzina amanu, orang beriman tidak akan bertanya tentang apa yang akan diturunkan. Namun yang pertama kali muncul pada mereka adalah “Alhamdulillah Allah masih menyebut kami orang-orang yang beriman” serta “siap ya Allah sami’na wa’atho’na, apa yang Kau perintahkan?”. Dilanjutkan dengan kutiba ‘alaikumusyiyam, tidak ada pertanyaan lagi mereka kerjakan puasa, serta Ittaquallah, aqimisholat wa atuzakat dan perintah lainnya. Setiap muncul kalimat orang-orang yang beriman maka muncul kebahagiaan dalam jiwanya.

Sekarang pertanyaanya kawan-kawan, apakah iman yang kita miliki sudah membuat kita tenang? Jangan-jangan kita mengaku diri beriman tetapi gelisahnya masih banyak tertanam dalam jiwa. Naudzubillah.


Editor : Amilia Buana Dewi Islamy

Ilustrator : Sofyan Adi Nugroho

5 2 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button