EsaiMatur Opini

Kita Yang Tak Sempat Menjadi Apa

Orang tua kita pastinya telah berpikir dan berijtihad mengenai kemaslahatan kita, hanya saja eksekutor terhadap hasil ijtihad mereka terutama kita anak muda generasi milenial ini banyak yang merasa nyaman dengan budaya konsumtif baik itu terhadap internet dan media sosial yang marak akhir-akhir ini digeluti anak-anak muda, tak lupa pula game online yang tak mau kalah pesat kembangnya.

Sehingga terjadi fenomena sosial diantaranya rasa malas mengembangkan diri dan potensi kita “anak muda” dalam rangka menjawab realitas kehidupan, merasa cukup dan puas berkiblat pada kiai gugel perihal agama juga perihal intelektual. Itu terjadi karena kita kurang berdialog dengan orang tua, malah terkesan melawan dan merasa lebih hebat dan lebih tahu.

Di sisi lain kedangkalan berpikir, degradasi moral, sektarian agama, politik rekognisi, invasi kemiskinan dan kehancuran ekologi tengah mengembangkan sayap-sayapnya dan menjadi brutal saja.

Kepekaan dan tanggung jawab sosial seolah tidak wajib. Dimana orang-orang melakukan segala sesuatu harus dengan jaminan feedback atau impact positif dan menguntungkan bagi mereka. Pelik bagi mereka melakukan segala sesuatu dengan ikhlas.

Anak muda seperti kita harus bisa berani mengambil sikap. Keluar dari zona nyaman. Mengembangkan potensi sedikit demi sedikit tetapi konsisten. Berupaya menggeluti hal-hal positif, mencoba gemar membaca, berkegiatan sosial dan mengkaji hasil bacaan kita baik itu bacaan buku maupun bacaan situasi dan kondisi kita.

Mengutip dari Samudera Rubaiyat – Rumi bertanya “Jika ilmu pengetahuan dan logika membuat orang semakin pandai dan cerdik, mengapa pada saat yang sama menimbulkan permusuhan? Mengapa orang beriman itu berpikiran sempit dan banyak melakukan penyimpangan? Apakah pandangan sempit merupakan sifat dan ciri para pendiri agama besar? Apa sebenarnya nilai kitab suci bagi orang beriman? Apakah hanya untuk dibaca dengan suara merdu dan tidak untuk ditafsirkan dalam rangka menjawab realitas kehidupan? Mengapa orang beriman yang tahu isi kitab suci itu gagal dalam muamalah dan tindakan”

Oleh karenanya, saya mengajak rekan-rekan pemuda semua untuk dapat memasifkan gerakan menyambut saat-saat akan datang. Terutama teruntuk Kita yang mengaku aktivis sosial kemasyarakatan, mahasiswa dan pelajar. Kita seharusnya tidak menjadi penjilat yang membenarkan segala sesuatu yang orang lain anggap benar.

Mari membaca dan diskusikan!


Editor : Marham Sari Zainuddin

Ilustratos : M. Aidrus Asya’bani

0 0 votes
Article Rating

Rezky Pradana

Ampun Senior

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button