CerpenMatur Sastra

Tasya dan Ajakan Ngedate yang Tertunda

Kisah cinta ini bermula pada kunjungan sekolah beberapa tahun silam. Aku dikenalkan oleh temanku dengan seorang perempuan bernama Tasya atau lebih tepatnya Anatasya Dewi, gadis dari sekolah yang saat ini aku kunjungi. Mendengar kalau Tasya tertarik denganku seketika aliran darah mengalir lebih cepat. Bagaimana tidak, selama ini yang aku tau tidak ada wanita yang menyatakan tertarik padaku.

Selain dari namaku yang sedikit aneh yaitu Ulik. Aku tidak tahu mengapa nama itu terpikir dibenak orang tuaku selaku yang memberikan nama itu. Begitu juga dengan tampang wajah yang tidak mendukung membuatku semakin yakin kalau tidak ada wanita yang suka padaku. Namun, kali ini semua dugaan yang aku buat salah, setidaknya untuk saat ini.

Cinta monyet yang mulai mekar diantara aku dan Tasya. Seperti kebanyakan cinta pertama, rasa yang ada begitu menggebu-gebu. Pesan yang masuk seperti selalu kabar gembira walau percakapan sekadar “kamu lagi apa” atau “sudah makan”. Cepat adalah kata yang pantas untuk menggambarkan bagaimana aku membalas pesan darinya.

Setelah dua bulan sejak aku memutuskan memacari Tasya, perjalanan hubungan kami begitu lancar namun kami belum pernah jalan berdua selama pacaran. Bukan karna aku tidak punya uang. Namun, jarak rumahku dan rumah Tasya yang terlampau jauh menyebabkan kami belum jalan berdua layaknya orang pacaran. Sebenarnya Tasya juga tidak pernah menuntut kami jalan berdua. Setidaknya kami tetap berhubungan melalui pesan-pesan pendek. Namun, sebagai lelaki aku merasa bersalah tidak pernah berkorban lebih untuk mengajak Tasya jalan.

Seperti kebanyakan ABG, sebelum tidur seperti biasa aku dan Tasya selalu berkirim pesan. Hingga di antara kami berdua disuruh tidur oleh orang tua kami karna terlalu asik berkirim pesan tanpa sadar yang awalnya senyum menjadi cikikikan yang mengganggu.

Malam itu aku menghubungi Tasya kalau minggu depan aku akan mengajaknya jalan berdua.

“Hae yank, pa kabar” tanyaku basa-basi sebelum memberinya kabar gembira.

“Baik yank” jawabnya pendek.

Segera aku membalas pesan untuk memberitahunya kalau minggu depan aku akan menjemput dan mengajaknya jalan-jalan. Namun, belum selesai aku mengetik pesan balasan, pesan kedua darinya masuk membawa kabar yang tidak terlalu mengenakan bagiku. Seketika niatku untuk mengajaknya jalan hilang.

“Yank, aku ada kabar buruk untuk kita,” ia berhenti sejenak. “Aku sekeluarga mau pindah kota minggu depan.”

Senyum di wajah hilang begitu saja dan tergantikan oleh raut tegang dan kecewa. Pesan yang sudah aku ketik, kuhapus dan kuganti.

“Kamu sama keluarga mau pindah kemana yank?” tanyaku penasaran.

“Aku mau pindah ke Mataram, yank.”

“Mataram? Di mana itu?” pikirku. Seperti tidak ingin kehilangan Tasya, aku langsung membuka buku RPUL (Ringkasan Pengetahuan Umum Lengkap) yang aku beli di bazar buku murah di sekolah. Melihat ke sana kemari di peta Indonesia mencari nama kota yang bernama Mataram. Dapat! Dan itu sangat jauh. Aku harus menyebrang tiga pulau dari pulauku. Gila! Bagaimana aku bisa menjumpainya?!

“Kamu serius, yank?” tanyaku masih dengan rasa penasaran. “Nanti gimana kalo aku mau jumpain kamu?”

“Mungkin kita gak jumpaan dulu yank. Kita berkabar melalui pesan dulu beberapa tahun kedepan sampai aku atau kamu yang datang untuk bertemu. Besok aku mau ngurus surat pindah sekolah.”

“Berapa tahun?” tanyaku memastikan. “1, 2, atau 3 tahun?”

“Aku gak tau pasti?”

Sebelum malam itu berakhir aku mengirim pesan padanya kalau aku akan menemuinya di Mataram, setidaknya untuk mengajaknya ngedate untuk pertama kali.

Tasya membalas dengan emoticon senyum.

Dan malam itu berakhir dengan rasa sedih, kecewa, dan takut yang menjadi satu.

Untuk pertama kali dalam hidupku rasa kecewa, takut kehilangan, dan rasa yang tidak bisa lagi aku ungkapkan berkumpul menjadi satu. Dan tentu malam itu aku tidak bisa tidur.

Setelah pindah aku dan Tasya masih terus berkirim pesan namun tidak seantusias dulu. Ada rasa yang berbeda, tapi aku tidak tahu pasti apa itu. Namun, yang pasti aku menjalani cinta ini tidak sebergairah dulu dan menurutku Tasya juga merasakan hal yang sama. Percuma saja toh aku tidak dapat menemuinya untuk entah sampai kapan. Hingga satu ketika pesanku tidak dibalasnya lagi. Aku coba telepon tidak tersambung hingga akhirnya aku pasrah dan berfikir bahwa cinta monyet ini telah usai.

Bulan setelah Tasya pergi aku merasa dia telah melupakanku, namun tidak bagiku. Aku masih saja terus berusaha melupakannya namun sia-sia. Ditambah seorang teman perempuanku menyerahkan surat dengan amplop bergaris merah putih dan berkata kalau surat itu dari Tasya yang ia titipkan sehari sebelum pindah. Namun, perempuan itu mengaku lupa memberikannya padaku.

Sepulang sekolah, aku bergegas membuka amplop bergaris merah putih tersebut dan mengambil surat yang tertulis pada kertas berwarna merah jambu. Dengan raut wajah antusias aku mulai membaca isinya. Degup jantungku sama persis seperti saat pertama kali aku mengungkapkan cinta pada Tasya.

Sembari tersenyum tipis aku membaca surat yang Tasya tulis dengan tulisan yang cantik dan rapi, dan mataku berlari-lari dari kiri ke kanan.

Dear Ulik sayang,
Aku tau kamu kecewa ketika mendengar kabar kalau aku harus pindah kota, kamu pasti marah sama aku. Tapi, aku janji kalau nama kamu tetap aku simpan sampai nanti kita bertemu lagi. Cintaku padamu enggak akan pudar apalagi hilang dari hatiku aku harap kamu juga begitu, aku percaya kalau kita akan bertemu walau aku tidak tau pasti kapan waktu itu akan tiba. Perpisahaan adalah hal yang menyakitkan rindu akan terus tertumpuk dan pada akhirnya rindu itu menjadi bahan bakar kita untuk melangkah dan bertemu. Aku harap kau tetap mencintaiku.
Ulik, I love you.
Tasya.

Di balik surat kudapati alamatnya.

Surat itu selalu aku simpan hingga kini setelah sepuluh tahun berlalu aku telah siap untuk menempati janjiku.

Tasya. Tunggu aku.


Editor : Rahayu Suciati

Ilustrator : Sofyan Adi Nugroho

4.8 5 votes
Article Rating

Related Articles

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Check Also
Close
Back to top button